“YEN SING IRAGA, NYEN BUIN?” Penataan Lovina Antara Keindahan, Kebersihan dan Kesadaran

Oleh : Nang Lecir

Lovina sedang berbenah. Jalur pedestrian dipercantik, lampu-lampu baru menerangi malam, wajah kawasan wisata andalan Bali Utara perlahan berubah menjadi lebih modern dan nyaman. Pemerintah patut diapresiasi karena telah menghadirkan infrastruktur yang lebih representatif demi meningkatkan daya saing pariwisata.

Namun di balik wajah baru itu, ada satu persoalan lama yang masih bertahan: sampah.

Di beberapa sudut kawasan, sampah plastik, bungkus makanan, hingga botol minuman masih terlihat berserakan. Ironisnya, pemandangan tersebut hadir di tengah fasilitas yang baru selesai dibangun. Keindahan yang seharusnya menjadi daya tarik justru ternoda oleh perilaku yang belum berubah.

Pertanyaannya sederhana, tetapi menggelitik: untuk siapa kawasan ini dibangun?

Jika jawabannya untuk masyarakat dan wisatawan, maka tanggung jawab menjaganya juga menjadi milik bersama. Pembangunan fisik hanya menyelesaikan separuh pekerjaan. Separuh lainnya adalah membangun karakter masyarakat agar memiliki rasa memiliki terhadap ruang publik.

Di sinilah kritik Komunitas Sementon Mang Dauh (SMD) yang dipimpin Nyoman Arya Astawa menjadi relevan. Dengan slogan “Yen Sing Iraga, Nyen Buin?” kalau bukan kita, siapa lagi?

Pesan yang disampaikan bukan sekadar ajakan memungut sampah, melainkan membangun kesadaran kolektif.

Slogan itu sederhana, tetapi memiliki makna mendalam. Sebab kebersihan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada petugas kebersihan ataupun pemerintah. Sehebat apa pun sistem pengelolaan sampah, semuanya akan kalah jika masyarakat masih menganggap membuang sampah sembarangan sebagai hal yang biasa.

Perlu diakui, pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar untuk menata kawasan Lovina. Akan tetapi, tidak ada anggaran yang mampu membeli kesadaran. Kesadaran hanya bisa lahir dari pendidikan, keteladanan, dan kebiasaan yang dibangun bersama.

Karena itu, momentum penataan Lovina semestinya tidak berhenti pada pembangunan trotoar, taman, maupun lampu penerangan. Momentum ini harus menjadi awal gerakan sosial untuk membangun budaya bersih. Kampanye publik, keterlibatan komunitas, pelaku usaha, nelayan, pedagang, hingga wisatawan perlu menjadi bagian dari ekosistem yang sama.

Lovina tidak hanya dijual karena pantainya atau lumba-lumbanya. Wisatawan juga datang untuk menikmati kenyamanan, kebersihan, dan keramahan lingkungan. Tidak sedikit destinasi wisata dunia yang kehilangan pesonanya bukan karena alamnya rusak, melainkan karena manusianya gagal menjaganya.

Pada akhirnya, keberhasilan penataan kawasan tidak diukur dari megahnya infrastruktur, tetapi dari kemampuan masyarakat mempertahankan kualitasnya. Sebab fasilitas bisa dibangun dalam hitungan bulan, tetapi budaya menjaga kebersihan membutuhkan komitmen bertahun-tahun.

Maka slogan “Yen Sing Iraga, Nyen Buin?” layak dijadikan semangat bersama. Karena mencintai Lovina tidak cukup dengan bangga melihat wajah barunya, tetapi juga dengan memastikan tidak ada lagi sampah yang menjadi penghias pemandangan.

Lovina telah dipercantik. Kini saatnya manusianya ikut berbenah. (305)

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top