
GEROKGAK – Di usia yang masih belia, Putu Eka Noviani harus menjalani perjuangan panjang melawan penyakit lupus. Selama tujuh tahun, gadis asal Desa Tukadsumaga, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, harus akrab dengan pengobatan dan berbagai tantangan yang datang silih berganti.
Di balik usianya yang masih muda, Eka menyimpan kisah perjuangan yang tidak ringan. Sebagai seorang yatim piatu, ia harus bertahan dengan dukungan keluarga.
Dari cerita sang kakek, Nengah Kertya (4/9), yang selama ini setia mendampingi perjuangannya. keterbatasan ekonomi membuat perjuangan tersebut semakin berat. Dalam tiga bulan terakhir, Eka terpaksa berhenti menjalani pengobatan medis. Kondisinya pun disebut semakin menurun.
“Selama ini kami berusaha semampunya agar Eka tetap bisa berobat. Tapi karena keterbatasan biaya, sudah sekitar tiga bulan pengobatannya berhenti. Kami tentu sangat berharap ada bantuan agar Eka bisa kembali mendapatkan pengobatan,” ungkap Nengah Kertya.
Kondisi Eka kemudian mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Buleleng. Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Buleleng, I Putu Kariaman Putra, S.Sos., MM., hadir langsung di Kecamatan Gerokgak untuk melihat kondisi Eka sekaligus memastikan kebutuhan yang diperlukan dapat diupayakan.
“Kami datang untuk melihat langsung kondisi Eka dan memastikan kebutuhan yang diperlukan bisa mendapatkan perhatian. Prinsipnya, jangan sampai persoalan ekonomi membuat warga yang membutuhkan harus kehilangan akses terhadap layanan yang dibutuhkan,” ujar Kariaman.
Sementara itu, Kepala Desa Tukadsumaga, Anak Agung Sri Wati, mengatakan pemerintah desa selama ini terus mengupayakan bantuan kepada Eka. Desa juga terus melakukan pendataan dan pemetaan kebutuhan melalui hasil perlindungan sosial.
“Pemerintah desa tetap berkomitmen mendampingi Eka. Selama ini bantuan rutin sudah diberikan. Dari hasil perlinsos, Eka juga dinilai layak mendapatkan bantuan BPNT. Kami akan terus berkoordinasi dan berupaya mencari dukungan lain sesuai kebutuhan pasien,” jelas Sri Wati.
Ia menambahkan, pihak desa juga membuka ruang kolaborasi dengan para pemerhati sosial untuk membantu memenuhi kebutuhan lanjutan Eka.
“Kami berharap semakin banyak pihak yang peduli. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana Eka bisa kembali mendapatkan dukungan dan pengobatan yang diperlukan. Kami tidak ingin dia merasa sendiri dalam menghadapi kondisi ini,” katanya.
Kisah Eka menjadi gambaran bahwa perjuangan melawan penyakit bukan hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga dukungan keluarga, kepedulian sosial dan kehadiran pemerintah.(305)
