
Buleleng, Bangkai tersebut ditemukan terdampar pada Minggu (11/1/2026) malam di sisi timur Pantai Lovina, tepatnya di sebelah timur Setra Desa Adat Kalibukbuk, Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng.
Kondisinya sudah membusuk parah sehingga menimbulkan bau tajam yang mengganggu warga dan wisatawan di sekitarnya.
Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kalibukbuk, I Ketut Wiryadana, mengatakan penemuan bermula dari laporan anggota Pokmaswas pada Sabtu malam. Saat itu, mereka mencurigai adanya benda asing di pesisir pantai dalam kondisi gelap.
“Awalnya kami hanya melihat bentuk yang tidak biasa. Setelah dicek lebih dekat, bau menyengat mulai tercium dan kami menduga itu bangkai mamalia laut,” ungkap Wiryadana.
Ia menjelaskan, kondisi bangkai yang sudah rusak parah menyulitkan identifikasi awal. Namun, berdasarkan ukuran dan bentuk tubuhnya, bangkai tersebut kuat diduga merupakan paus sperma (Physeter macrocephalus).
Menyikapi temuan tersebut, Pokmaswas Kalibukbuk segera berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait, mulai dari Pemerintah Kabupaten Buleleng, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, BKSDA Bali, hingga Dinas Ketahanan Pangan dan Kelautan (DKPP) Buleleng.
“Karena kondisinya sudah sangat busuk, identifikasi detail sulit dilakukan. Kami juga harus waspada karena belum mengetahui penyebab kematiannya, apakah ada potensi infeksi atau faktor lain,” jelasnya.
Hasil koordinasi tersebut menghasilkan tiga opsi penanganan, yakni bangkai ditarik ke tengah laut untuk ditenggelamkan, dibakar, atau dikubur. Namun, cuaca laut yang tidak bersahabat membuat opsi penenggelaman tidak memungkinkan dilakukan.
“Kondisi gelombang dan cuaca tidak mendukung. Sementara bau bangkai sudah sangat menyengat dan perlu segera ditangani,” ujar Wiryadana.
Setelah kembali berkoordinasi dengan pemerintah desa, desa adat, pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Lovina, serta unsur masyarakat setempat, disepakati penanganan darurat dengan cara mengubur bangkai mamalia laut tersebut secara swadaya.
Proses penguburan dilakukan menggunakan alat berat yang disewa khusus, dengan tetap mengantongi izin dari instansi berwenang.
“Ini kejadian pertama di Lovina ada mamalia laut sebesar ini terdampar. Karena situasinya mendesak, kami sepakat melakukan penguburan agar tidak menimbulkan dampak kesehatan dan gangguan bagi aktivitas pariwisata,” pungkasnya. (305)
