
Singaraja, Penataan kawasan bersejarah Titik Nol Kota Singaraja resmi dimulai. Setelah tiga hari sebelumnya dilakukan pembongkaran sejumlah bangunan dan penataan pohon, tahapan pembangunan ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama atau ground breaking, Jumat (20/2).
Kegiatan dipusatkan di areal Rumah Jabatan Bupati Buleleng dan Gedung Wanita Laksmi Graha Singaraja. Prosesi tersebut dipimpin langsung Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna, jajaran DPRD Buleleng, serta Sekretaris Daerah Gede Suyasa.
Bupati Sutjidra menjelaskan, pengerjaan fisik sebenarnya telah dimulai sejak tiga hari lalu. Ground breaking menjadi penanda dimulainya tahap pembangunan secara simbolis sekaligus bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menata ulang wajah kawasan bersejarah tersebut.
“Penataan Titik Nol ini adalah bagian dari upaya kami mengembalikan marwah kawasan bersejarah di Kota Singaraja. Kita ingin menata ulang agar lebih tertata, terbuka, dan tetap menghormati nilai historisnya,” ujarnya.

Menurutnya, progres awal berjalan lancar dan sesuai rencana. Pemerintah daerah pun optimistis proyek ini dapat diselesaikan tepat waktu sehingga wajah baru Titik Nol dapat segera dinikmati masyarakat.
Penataan kawasan Titik Nol memang tidak lepas dari pro dan kontra di tengah masyarakat. Namun Bupati Sutjidra menilai perbedaan pandangan adalah hal wajar dalam setiap proses pembangunan.
“Perbedaan pendapat itu biasa. Tetapi tujuan kami jelas, yaitu menjaga nilai sejarah Singaraja sekaligus menata agar kawasan ini lebih representatif dan terbuka untuk publik,” tegasnya.
Ia menambahkan, selama ini perubahan dan penambahan bangunan dinilai mulai mengaburkan karakter historis kawasan. Melalui penataan ulang, pemerintah ingin mengembalikan identitas arsitektur heritage tanpa sekat-sekat tinggi yang membatasi akses publik.
Selain Titik Nol, pembenahan juga akan menyasar lobi Kantor Bupati. Area tersebut akan didesain ulang menjadi ruang terbuka untuk menerima tamu serta masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi atau “mesadu”.
“Semua bangunan bersifat heritage tanpa tembok-tembok tinggi. Lobi Bupati juga akan dikembalikan seperti dahulu, menjadi ruang terbuka untuk menerima tamu dan tempat masyarakat berdiskusi,” pungkasnya.
Dengan dimulainya ground breaking ini, kawasan Titik Nol Singaraja kini resmi memasuki fase “vermak” atau bersolek—sebuah langkah yang diharapkan mampu memperkuat identitas sejarah sekaligus mempercantik wajah pusat Kota Singaraja.(305)
