
Buleleng, Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kabupaten Buleleng selama dua hari berturut-turut, pada 11–12 Januari 2026, memicu serangkaian bencana tanah longsor dan pohon tumbang di sejumlah kecamatan. Akses jalan desa, rumah warga, hingga fasilitas umum terdampak, memaksa warga dan petugas bergerak cepat melakukan penanganan darurat.
Peristiwa pertama terjadi pada Senin, 12 Januari 2026, pukul 09.00 Wita, saat tanah longsor melanda Banjar Dinas Tabang, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan. Material longsor menutup aset jalan yang menjadi akses utama menuju Desa Bontihing. Warga setempat langsung bergotong royong membersihkan longsoran agar jalur transportasi kembali dapat dilalui.
Bencana kembali terjadi pada malam harinya. Sekira pukul 19.00 Wita, hujan deras mengakibatkan senderan rumah milik I Wayan Miarta di Banjar Dinas Belulang, Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, longsor. Longsoran dengan panjang sekitar 7 meter dan tinggi 4 meter itu menutup akses jalan kelompok tani menuju Balai Banjar Pangkung Sema. Warga bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas langsung melakukan kerja bakti untuk membuka kembali akses jalan.
Sementara itu, pada Senin dini hari, 12 Januari 2026, pukul 02.00 Wita, tebing di belakang SDN 3 Gitgit mengalami longsor. Material longsoran membawa pohon hingga menimpa bagian atap gedung sekolah. Penanganan lanjutan masih menunggu kondisi cuaca yang memungkinkan.
Hujan deras juga menyebabkan longsornya halaman rumah Putu Darmayasa di Banjar Dinas Taman, Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, dengan panjang longsoran sekitar 5 meter dan tinggi 1,5 meter.
Tak hanya longsor, angin kencang disertai hujan turut memicu pohon tumbang di sejumlah lokasi. Pada Senin malam, pukul 22.00 Wita, sebuah pohon kelapa dan pohon ketapang tumbang di Desa Kalibukbuk dan Desa Tukadmungga, menutup akses jalan warga. Selang satu jam kemudian, tepat pukul 23.00 Wita, pohon pule berdiameter sekitar 60 sentimeter tumbang di Banjar Kelod, Desa Busungbiu, Kecamatan Busungbiu.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buleleng, I Gede Suyasa, mengatakan seluruh kejadian tersebut dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang disertai angin kencang.
“Curah hujan yang cukup tinggi selama dua hari menyebabkan kondisi tanah menjadi labil dan pohon-pohon tidak mampu menahan terpaan angin. Kami sudah melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan aparat desa serta unsur terkait untuk penanganan darurat,” ujar I Gede Suyasa.
Ia juga mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor dan pohon tumbang agar tetap waspada, terutama saat hujan deras berlangsung dalam waktu lama.
“Kami mengajak masyarakat segera melapor jika melihat tanda-tanda bahaya seperti retakan tanah atau pohon yang rawan tumbang, agar bisa segera ditangani dan tidak menimbulkan korban,” tambahnya.
BPBD Buleleng memastikan akan terus melakukan pemantauan cuaca dan kesiapsiagaan, mengingat potensi bencana hidrometeorologi masih tinggi di tengah musim penghujan. (305)
