Putu Andhika Arya Pratama Resmi Pimpin PAC PDIP Banjar, Jejak Sang Ayah Jadi Sorotan

Buleleng Dinamika politik di tubuh PDI Perjuangan Kabupaten Buleleng kembali menghangat. Putu Andika Pratama resmi terpilih sebagai Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Banjar (4/1/2025).

Aktivisme sosial yang konsisten kerap menjadi fondasi kuat bagi lahirnya kepemimpinan politik. Fenomena itu kini tercermin di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Putu Andhika Arya Pratama resmi terpilih sebagai Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Banjar, sebuah capaian yang tak lepas dari bayang-bayang kerja sosial sang ayah, Nyoman Arya Astawa.

Nyoman Arya Astawa, yang dikenal luas aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, selama ini lebih banyak bergerak senyap.

Mulai dari aksi solidaritas warga, bantuan sosial, hingga keterlibatan dalam kegiatan adat dan kepemudaan, sosoknya kerap hadir tanpa embel-embel jabatan politik. Pola kerja inilah yang dinilai menjadi “sekolah politik” paling nyata bagi Putu Andhika.

Putu Andika Pratama merupakan putra dari Nyoman Arya Astawa, salah satu kader sekaligus simpatisan PDI Perjuangan Buleleng yang dikenal luas dengan sapaan Mang Dauh. Meski baru menapaki dunia politik secara formal, langkah Putu Andika dinilai bukan tanpa persiapan. Ia disebut telah lama berada dalam pusaran diskursus politik, meski lebih banyak bergerak di balik layar.

Terpilihnya Putu Andhika sebagai Ketua PAC PDIP Banjar memantik beragam respons publik. Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai bentuk regenerasi kader partai yang berangkat dari akar sosial. Namun di sisi lain, publik juga menaruh ekspektasi tinggi agar kepemimpinan baru ini tidak sekadar meneruskan popularitas keluarga.

Menariknya, Mang Dauh mengungkapkan bahwa putranya sejatinya telah lama “dilirik” sejumlah partai politik, termasuk PDI Perjuangan sendiri, untuk menduduki posisi strategis, khususnya sebagai Ketua PAC Banjar. Namun, tawaran tersebut sempat ditunda.

“Waktu itu masih kami tahan. Pertimbangannya sederhana, agar dia fokus dulu di dunia usaha dan mematangkan cara berpikir serta pengalaman. Politik itu bukan sekadar jabatan, tapi soal kedewasaan,” ujar Mang Dauh saat dikonfirmasi.

Keputusan menunda pinangan politik tersebut kini justru menjadi modal legitimasi. Putu Andika dinilai tidak datang sebagai figur instan, melainkan melalui proses penempaan di luar struktur partai. Hal ini sekaligus menjadi bantahan atas anggapan politik dinasti yang kerap melekat pada regenerasi kader berbasis keluarga.

Dikonfirmasi mengenai strategi ke depan, Putu Andika menegaskan tidak ingin PAC hanya menjadi mesin elektoral musiman. Ia memilih fokus pada penguatan basis akar rumput melalui gerakan sosial kemasyarakatan yang menyentuh langsung kebutuhan warga.

“Partai harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Bukan hanya saat pemilu. Penguatan sosial, gotong royong, dan pendampingan warga akan jadi prioritas,” tegasnya.

Langkah ini dinilai sejalan dengan semangat ideologis PDI Perjuangan yang menempatkan rakyat sebagai pusat perjuangan. Namun tantangan besar menanti. Publik kini menunggu pembuktian, apakah Putu Andika mampu keluar dari bayang-bayang figur ayahnya dan menghadirkan kepemimpinan PAC yang progresif, solid, serta relevan dengan persoalan lokal Banjar.

Estafet tongkat politik telah berpindah tangan. Kini, waktu dan kinerja yang akan menjawab, apakah regenerasi ini menjadi kekuatan baru bagi PDI Perjuangan Buleleng, atau sekadar romantisme nama besar dalam panggung politik lokal. (305)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top