Tugu Belanda di Desa Temukus, Bukti Kemenangan Rakyat Buleleng Melawan Penjajah Yang Kian Tak Terawat

Temukus, Di selatan Desa Temukus, menghadap hamparan laut yang tenang, berdiri sebuah monumen tua yang menyimpan kisah panjang tentang perang, perlawanan, dan jejak kolonialisme Belanda di Buleleng. Monumen yang kerap disebut Tugu Belanda ini bukan sekadar bangunan batu, melainkan saksi bisu pertumpahan darah dan perjuangan masyarakat Temukus mempertahankan tanah leluhur mereka.

Sejarah monumen ini tidak bisa dilepaskan dari Perang Banjar yang terjadi pada 20 September 1868. Pada masa itu, wilayah Temukus dan sekitarnya menjadi salah satu titik perlawanan sengit masyarakat Bali Utara terhadap ekspansi kekuasaan Belanda. Dalam peristiwa tersebut, dua perwira Belanda, Stagman dan De Nijs, tewas di tangan pejuang yang dengan gigih mempertahankan daerahnya dari pendudukan penjajah.

Sejarahwan Universitas Pendidikan Ganesha Made Pageh menceritakan Konon, monumen Belanda ini dibangun untuk memperingati kematian seorang tuan berbintang tujuh, seorang pejabat tinggi Belanda yang jasadnya dikuburkan di kawasan pesisir pantai Temukus.

“Keberadaan monumen tersebut menjadi penanda kuat bahwa wilayah ini pernah menjadi medan penting dalam sejarah kolonial di Bali Utara.” ungkapnya

Lebih lanjut Made Pageh menceritakan, Desa Temukus sendiri dikenal sebagai salah satu benteng pertahanan rakyat melawan Belanda, yang dalam catatan sejarah lokal disebut sebagai Perang Karang Rupit.

“Nama Karang Rupit hingga kini masih melekat sebagai simbol keberanian masyarakat Temukus dalam menghadapi kekuatan militer kolonial yang jauh lebih modern.”pungkasnya

Menariknya, monumen atau tugu Belanda yang kini berdiri di selatan Desa Temukus bukanlah peninggalan langsung dari abad ke-19. Monumen tersebut didirikan kembali pada tahun 1988, pada masa kepemimpinan Perbekel Desa Temukus, I Wayan Kantel, sebagai penanda sejarah dan pengingat akan peristiwa besar yang pernah terjadi di wilayah tersebut.

Sebagai penguat ingatan sejarah, di areal Kantor Desa Temukus juga terdapat tugu atau monumen perjuangan, yang menunjukkan keterkaitan langsung dengan keberadaan Tugu Belanda di selatan desa. Monumen-monumen ini menjadi rangkaian narasi sejarah yang saling terhubung, mengisahkan masa kelam penjajahan sekaligus semangat perlawanan rakyat.

Namun, Cerita heroik para pejuang hingga terbangunnya tugu kubur belanda tak seindah kondisinya kini, areal tugu sudah hampir tak terlihat oleh lebatnya semak belukar, hingga keberadaanya seolah luput dari sentuhan perhatian, semoga tugu ini menjadi pengingat bahwa di Desa Temukus pernah terjadi kisah heroic para pejuang menumpahkan darah untuk mengalahkan penjajah walau pada akhirnya harus tunduk pada kekuatan Belanda. (305)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top