
Tak banyak yang mengetahui bahwa Desa Sumberkima di Kecamatan Gerokgak menyimpan sebuah kisah asal-usul yang begitu unik dan nyaris tak lazim ditemukan di daerah pesisir. Nama “Sumberkima” bukan sekadar penanda wilayah, tetapi merupakan jejak sejarah tentang sumber air tawar yang konon memancar dari pecahan kerang kima di tepi pantai desa tersebut—sebuah anomali alam yang hingga kini masih meninggalkan decak kagum.
Sejarah Sumberkima bermula dari kedatangan suku Mandar dari Sulawesi, para pelaut ulung yang terkenal berani menaklukkan lautan Nusantara. Suatu ketika, rombongan pelaut ini berlabuh di wilayah yang kini dikenal sebagai Sumberkima. Namun, kondisi alam di sekitar mereka menghadirkan kesulitan: tidak ada sumber air tawar yang dapat digunakan untuk minum, masak, maupun mandi.
Para pelaut pun menyusuri garis pantai, berharap menemukan setitik harapan. Hingga sebuah keajaiban terjadi. Di antara pecahan kerang kima—spesies kerang laut berukuran besar—muncul semburan air yang terasa tawar, meskipun lokasi tersebut dikelilingi air laut.
Air tawar dari kerang laut? Kisah ini mungkin terdengar seperti legenda, namun bukti alaminya tetap ada. Keunikan inilah yang menginspirasi penyebutan nama “Sumberkima,” yang berasal dari dua kata: Sumber (sumber air) dan Kima (kerang laut).
“Para pelaut Mandar menjadikan tempat itu sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Dari situlah nama Sumberkima muncul,” tutur Kepala Desa Sumberkima, Nengah Wirta, mengenang cerita turun-temurun masyarakat setempat.
Menariknya, sumber air legendaris itu masih dapat ditemukan hingga hari ini. Lokasinya berada di Dusun Mandar Sari, seolah menjadi pengingat akan sejarah pertemuan budaya dan keajaiban alam di masa lampau.
Sebagai bentuk pelestarian, Pemerintah Desa Sumberkima telah membangun sebuah tugu tepat di atas titik mata air tersebut. Tugu itu bukan sekadar monumen, melainkan simbol identitas desa.
Nengah Wirta menjelaskan bahwa tugu yang kini berdiri megah memiliki filosofi mendalam. Bentuknya segi delapan, melambangkan delapan dusun yang membentuk Desa Sumberkima. Di bagian atas, sebuah ornamen kerang kima ditempatkan sebagai ikon utama—representasi dari legenda yang melahirkan nama desa.
“Tugu ini kami bangun agar generasi mendatang tak melupakan akar sejarah mereka. Ini bukan hanya mata air, tapi identitas,” ungkapnya.
Tak berhenti pada pelestarian sejarah, Pemerintah Desa Sumberkima kini menatap potensi pengembangan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata. Di sekeliling lokasi terdapat hamparan hutan bakau yang menyimpan kekayaan biodiversitas, sangat cocok untuk dijadikan kawasan wisata edukasi. Terlebih, Desa Sumberkima juga memiliki Gili Putih—pulau kecil berpasir putih di tengah laut—yang sudah lebih dulu dikenal sebagai destinasi wisata eksotis.
“Ke depan kami ingin kawasan ini tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga ruang edukasi dan rekreasi bagi masyarakat,” tambah Kades Wirta.
Kisah Sumberkima adalah cerita tentang hubungan manusia dengan alam—bahwa sebuah desa bisa lahir dari sebuah keajaiban kecil yang menyelamatkan sekelompok pelaut ratusan tahun lalu. Sumber air tawar dari kerang kima itu kini menjadi penanda perjalanan panjang sebuah komunitas pesisir yang terus menjaga identitasnya. Dan di Dusun Mandar Sari, di bawah tugu segi delapan berornamen kima itu, sejarah tersebut masih mengalir. (305)
